TENUN TRADISIONAL BARANUSA
KAWATE BITTI
(SARUNG SONGKET)
WARISAN BUDAYA SIMBOL KEKUASAAN IDENTITAS BARANUSA
ASAL & NAMA
Baranusa, Alor, NTT.
Tenun Tradisional Kawate Bitti (Sarung Songket).
TENTANG KAWATE BITTI
Kawate Bitti atau sarung songket adalah kain tenun tradisional Baranusa yang memiliki hiasan benang emas (bitti/songket) pada bagian tertentu sehingga tampak mewah dan berkilau. Motifnya sarat makna budaya, melambangkan martabat, kehormatan, dan identitas masyarakat Baranusa.
4 VARIASI KAWATE BITTI
|
Variasi |
Makna |
| 1. KAWATE BITTI BIRU | Warna biru melambangkan ketenangan dan kesetiaan. Motif songket emas memberi kesan agung dan berwibawa. |
| 2. KAWATE BITTI HIJAU TUA | Warna hijau tua melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Motif tenun yang teratur mencerminkan kehidupan yang harmonis. |
| 3. KAWATE BITTI PELANGI | Kombinasi warna-warni melambangkan kebersamaan, suka cita, dan keharmonisan masyarakat dalam berbagai perayaan adat. |
| 4. KAWATE BITTI HIJAU MUDA | Warna hijau muda melambangkan kesejukan dan kedamaian. Motif songket emas menjadi simbol kemuliaan dan kebanggaan. |
MAKNA MOTIF & SONGKET
|
Unsur |
Makna |
| Benang Emas (Bitti) | Simbol kemewahan, kejayaan, dan penghormatan. |
| Motif Geometris | Melambangkan keteraturan, keseimbangan, dan filosofi kehidupan masyarakat. |
| Garis & Warna | Menggambarkan persatuan, keberagaman, dan semangat gotong royong. |
PENGGUNAAN DALAM ADAT
|
Kegiatan |
Keterangan |
| HAJATAN | Digunakan dalam acara pernikahan, syukuran, penjemputan tamu kehormatan, dan pesta adat sebagai simbol kebahagiaan, kehormatan, dan martabat keluarga. |
| RITUAL ADAT | Digunakan dalam ritual adat seperti upacara penghormatan leluhur, ritus tanam, panen, hingga ritual syukuran laut dan alam semesta. |
KEISTIMEWAAN KAWATE BITTI
- Ditenun dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-
- Memanfaatkan benang katun pilihan dan benang emas (bitti).
- Dikerjakan dengan ketelitian tinggi oleh para penenun
- Menjadi kebanggaan dan identitas budaya
“Kawate Bitti adalah bukan sekadar kain, tetapi warisan leluhur yang menyatukan nilai budaya, spiritualitas, dan kehormatan.”
Lestarikan Tenun, Lestarikan Budaya, Lestarikan Baranusa
Gbr. Abdul Rasyid Mangkop
